Gagal berbisnis bersama partner, kenali 5 penyebabnya!

2:23 AM

Gagal berbisnis bersama partner, kenali 5 penyebabnya
Sumber foto: pexels,com


Memilih rekan bisnis yang tepat itu nggak gampang. Partner bisnis adalah seseorang yang sudah berkomitmen untuk menjalankan bisnis bersama-sama. Seorang partner yang baik harus mau terbuka dan bisa menjaga komunikasi dengan baik. Partner bisnis juga bisa lebih dari satu orang, namun jangan terlalu banyak. Semakin banyak orang bisa semakin sulit decision making nya nanti. Ingat, yang dimaksud disini adalah partner dalam tim manajemen loh, bukan pegawai.

Disini saya akan sedikit sharing mengenai pengalaman saya berbisnis dengan seorang partner. Bisnis yang saya jalankan adalah bisnis online, dengan platform berupa website dan media sosial. Awalnya semua berjalan dengan baik. Namun karena sesuatu hal yang saya juga tidak pahami, partner saya mulai berubah. Kami mulai berdebat karena pendapat kami selalu bertentangan. Singkat cerita, bisnis tersebut kemudian bubar, di awal tahun 2016 ini.

Apakah itu menjadikan saya seorang pecundang? Tentu saja tidak! Dalam segi produk dan marketing bisnis kami sudah oke, hanya saja kesalahan terletak pada manajemennya. Saya belajar banyak dari kegagalan bisnis pertama saya ini. Tujuan saya share ini untuk berbagi pengalaman supaya kamu nggak mengulangi kesalahan saya. Yang terpenting kan belajar dari kegagalan, bukan kegagalan itu sendiri :)

Berikut ini hal-hal yang menjadi penyebab kegagalan manajemen bisnis saya:

1. Memiliki tujuan yang berbeda

Usut punya usut, ternyata tujuan saya dan partner dalam berbisnis itu jauh berbeda. Satu menginginkan bisnis yang profitable, sementara satu lagi berbisnis untuk mendongkrak popularitas. Alhasil cara kami menangani bisnis ya berbeda. Inilah sebabnya dari awal saya tekankan pentingnya memiliki tujuan yang sama dalam sebuah bisnis. Kalau tujuannya beda ke belakangnya nanti repot. Ibarat berada semobil dengan orang yang satu mau ke Jakarta, satunya lagi mau ke Bali.

Baca juga: Pentingnya menentukan GOAL dalam memulai bisnis

2. Clash of Divisions

Dalam sebuah perusahaan, pertentangan antar divisi adalah hal yang wajar. Begitu pula dengan bisnis startup. Sederhananya begini. Untuk melakukan marketing, promosi, dan sebagainya memerlukan biaya. Sementara biaya yang dikeluarkan untuk produksi juga sudah banyak, sehingga bagian produksi berpikir bahwa budget marketing itu tidak perlu. Marketing menyalahkan produksi yang tidak mau menekan ongkos produksi sehingga marketing tidak mendapat budget promosi. Gawatnya, kedua divisi nggak ada yang mau mengalah. Ya terus saja begitu sampai ladang gandum dihujani meteor cokelat dan jadilah Ko** Crun**

3. Kurang komunikasi dan transparansi

Komunikasi dan transparansi adalah kriteria utama yang harus dimiliki seorang partner bisnis. Diskusi untuk mengambil keputusan sangat diperlukan, apalagi kalau posisi kalian setara. Jangan sampai antar divisi nggak terbuka dengan keputusan yang diambil masing-masing divisi.  Seorang partner juga harus transparan dan mau terbuka sehingga dapat dipercaya. Kalau dua hal ini tidak ada, urusannya bisa repot, apalagi kalau sudah menyangkut keuangan. Jangan sampai divisi lain marah pada divisi marketing karena over budget dengan promosi-promosi dan iklan namun nggak ada komunikasi.

4. Tidak ada hitam di atas putih

Ini juga salah satu yang tidak saya lakukan waktu itu. Saya waktu itu berpikir karena kami teman, maka saya bisa percaya 100% pada dia. Sistem kami juga lebih mengarah ke informal, makanya nggak ada agenda kerja. Padahal apapun yang didiskusikan dan disepakati harus ada bukti tertulisnya. Sehingga apabila partner melanggar kesepakatan, sudah ada bukti konkritnya. Kalau perlu bubuhkan tanda tangan juga supaya partner tidak bisa berdalih. Bukan bermaksud untuk negative thinking pada teman sendiri, tapi berjaga-jaga itu langkah yang cerdas.

5. Mencampurkan urusan personal ke dalam bisnis

Partner bisnis bisa saja teman, tapi bisnis adalah bisnis. Jangan merasa nggak enak untuk bersikap tegas karena dia teman dekat. Juga jangan mencampurkan masalah pribadi ke dalam urusan bisnis. Kalau bertengkar dengan partner karena urusan di luar bisnis, cepat selesaikan karena itu pasti akan berpengaruh ke dalam jalannya bisnis. Believe me, kamu harus memisahkan urusan personal dari urusan bisnis.

Berbisnis sendiri, bersama partner, maupun tim memiliki resikonya masing-masing. Kalau nggak mau ambil resiko ya nggak usah sukses haha. Kalau kamu masih muda dan pernah mengalami hal-hal seperti saya, jangan khawatir! Bahkan orang dewasa yang sudah bekerja pun pasti pernah mengalaminya. Melalui pengalaman-pengalaman seperti ini, kita diajar untuk menjadi semakin dewasa dan profesional dalam menghadapi segala situasi.

Share ke teman-temanmu yah supaya mereka juga sama-sama belajar!

- clei

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts