Kenali 3 cara cerdas mengendalikan emosi

5:55 AM

Kenali 3 cara cerdas mengendalikan emosi
Sumber foto: inkedtrader.com
Menjadi orang yang emosian itu banyak ruginya. Coba bayangkan kalau gara-gara terjebak macet kita jadi emosian, lalu mood kita nggak bagus seharian. Akibatnya kita jadi kurang produktif, jadi males belajar atau kerja. Gawatnya, kadang-kadang emosi juga bisa berimbas pada orang lain. Orang lain nggak salah apa-apa kita marahi. Teman, orang tua, bahkan mungkin pacar bisa jadi korban.

Jujur saja saya adalah seorang yang bisa dibilang mudah terpancing emosinya. Tanyakan pada semua orang terdekat saya, maka mereka pasti akan mengatakan hal yang sama. Memang dalam usia di bawah 20 tahun, banyak dari kita yang cenderung lebih mudah emosian dan belum bisa berpikir dewasa. Namun seiring banyak pengalaman hidup, dengan sendirinya kita akan mampu berpikir lebih jernih kok. Saya pun semakin menyadari bahwa ada hal-hal yang memang perlu kita sikapi dengan penuh lapang dada, bukan amarah.

Saya merekomendasikan buku Lead Positive: What Highly Effective Leaders See, Say and Do yang ditulis oleh Kathryn D. Cramer untuk kamu yang ingin belajar tentang leadership atau kepemimpinan. Dalam buku tersebut ada satu bab yang membahas tentang perbandingan orang yang mudah emosian (reactive) dan orang yang bertindak dengan pemikiran terlebih dahulu (responsive). Dalam menghadapi konflik, si reaktif hanya memikirkan cara memenangkan argumen. Sementara si responsif bertanya pada dirinya sendiri akan 2 hal.

  1. Seberapa penting bisnis tersebut? (atau urusan lain)
  2. Seberapa berharga orang yang berkonflik dengannya untuk kesuksesan bisnis tersebut?


Ketika si responsif  bertanya pada diri sendiri akan hal tersebut, otomatis tubuh dan pikirannya pun lebih tenang. Ia menjadi tidak terbawa emosi ketika menghadapi konflik dengan orang lain. Dengan bersikap responsif, kita juga bisa meningkatkan rasa percaya diri kita. Biasanya orang yang emosian tidak berpikir terlebih dahulu akan apa yang mereka ucapkan. Sementara dengan bersikap responsif, kamu bisa memikirkan dengan jernih kalimat apa yang seharusnya kamu ucapkan dengan sopan tanpa terprovokasi. Kamu jadi lebih memegang kontrol atas dirimu sendiri dan lingkungan sosialmu.

Bayangkan. Dengan menjadi responsif, kamulah yang memegang kendali atas dirimu. Bukan emosi yang mengendalikanmu. Hebat, kan?

Untuk menjadi seseorang yang responsif juga butuh waktu. Jika kamu sekarang adalah seseorang yang mudah terpancing emosinya, maka jangan harap kamu bisa menjadi responsif dalam seketika. Seperti saya, dibutuhkan proses dan pengalaman yang cukup banyak untuk menjadi lebih responsif. Saya pun mengakui saat ini masih sering terpancing emosinya, walaupun jauh berkurang dari yang dulu. Bersabarlah dan jalani prosesnya, pasti akan membuahkan hasil kok :)

Berikut ini adalah 3 cara yang bisa membantu kamu mengendalikan emosi:

1. Ambil napas dalam-dalam.

Walaupun kesannya sepele, namun cara ini ternyata efektif loh.

2. Keluar dari lapangan dan berdiri di tribun.

Perbedaan antara pemain di lapangan dengan penonton di tribun ada pada jarak pandangnya. Pemain adalah yang merasakan tantangan secara langsung di lapangan. Sementara penonton mempunyai perspektif lebih luas, dapat mengamati gerak-gerik pemain dan mengantisipasi gerakan mereka.

Terkadang, kita perlu mundur sebagai pemain dan beralih menjadi penonton di tribun. Hal ini untuk mengurangi stress akibat tekanan yang ada di lapangan. Dengan menjadi penonton kita dapat memahami apa yang dialami orang-orang, memakai sepatu mereka, dan berempati. Pada akhirnya kita bisa memahami bagaimana untuk merespon terhadap situasi.

Contohnya, kamu terlibat konflik dengan seseorang yang tidak pernah tau rasanya sulit mencari uang. Pahami situasi dia. Tidak ada gunanya kamu berdebat dan memaksa dia untuk berhemat. Beritahu dia baik-baik tentu saja nggak ada salahnya, namun jangan sampai memaksakan. Melalui pengalaman hidup, lama-lama dia akan tahu kok.


3. Aksi – Observasi – Refleksi

Tiga rumus ini wajib untuk dihapal buat kamu yang ingin mengembangkan diri kamu, terutama dari segi kepemimpinan. Sederhananya, setiap kali kamu melakukan sesuatu, lakukan observasi. Dari observasimu itu kamu bisa merefleksikan hal-hal penting apa yang bisa kamu ambil untuk pembelajaran. Dengan refleksi, kita juga memahami situasi dan lebih mengendalikan diri, sehingga kita nggak gampang terbawa emosi.

Misalnya kamu memutuskan untuk rajin menulis jurnal (contohnya seperti saya di blog ini LOL). Kamu mengamati bahwa sekarang kamu lebih jarang emosian dibandingkan dulu. Setelah direfleksikan, ternyata emosi kamu disalurkan melalui tulisan, bukan dilampiaskan ke orang lain. Kamu pun belajar bahwa menulis jurnal membawa pengaruh positif bagi hidup kamu.

Semoga apa yang saya pelajari dari buku tersebut bisa membantu kamu untuk mengendalikan emosi yah! Semuanya butuh proses kok, nggak apa-apa kalau kamu masih sering terpancing emosinya (saya juga kok! Haha). Yang terpenting kamu sudah mengetahui tips-tipsnya dan berusaha untuk menjalankannya. Jangan lupa baca bukunya juga. Highly recommended untuk kamu calon pemimpin sukses!

- clei


You Might Also Like

0 comments

Popular Posts